Setiap
masyarakat bahasa memiliki berbagai cara yang digunakan untuk mengungkapkan
gagasan dan perasaan atau untuk menyebutkan atau mengacu ke benda-benda di
sekitarnya. Hingga pada suatu titik waktu, kata-kata yang dihasilkan melalui kesepakatan
masyarakat itu sendiri umumnya mencukupi keperluan itu, namun manakala terjadi
hubungan dengan masyarakat bahasa lain, sangat mungkin muncul gagasan, konsep,
atau barang baru yang datang dari luar budaya masyarakat itu. Dengan sendirinya
juga diperlukan kata baru. Salah satu cara memenuhi keperluan itu yang sering
dianggap lebih mudah adalah mengambil kata yang digunakan oleh masyarakat luar
yang menjadi asal hal ihwal baru itu.
Menurut
sejarahnya, nenek moyang kita bangsa Indonesia telah berhubungan dan berbaur
dengan bangsa lain sejak berabad-abad lalu lamanya. Sehingga banyak pula kata
atau istilah asing yang dipelajari untuk dapat berhubungan dengan bangsa lain
tersebut. Dengan berjalannya waktu beberapa kata atau istilah asingpun
digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan semakin lama semakin banyak pula yang
digunakan.
Penting
diketahui bahwa, setiap bahasa termasuk bahasa Indonesia, mempunyai sifat
dinamis karena masyarakat sebagai pengguna bahasa tersebut cenderung akan
mengalami perubahan. Bahasa Indonesia terbukti sangat terbuka menerima
pembaruan yang dapat menjadikannya sebagai bahasa yang modern dengan adanya
proses penyerapan bahasa asing (diluar bahasa Indonesia) ke dalam bahasa
Indonesia. Namun, semua perubahan itu harus melewati tahapan proses penyerapan
bahasa atau istilah. Sebagai penjelasan lebih jauh, artikel ini hadir
untuk memberikan pengertian tentang kata serapan. Selain itu, akan dijelaskan
pula tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh suatu istilah baru, yang akan
diserap ke dalam Bahasa Indonesia.
Lalu
apa itu kata serapan?
Kata
serapan
adalah
kata yang bersumber dari bahasa lain (bahasa daerah/bahasa asing) yang sudah diintegrasikan
ke dalam suatu bahasa dan diterima pemakaiannya secara umum, yang kemudian
ejaan, ucapan, dan tulisannya disesuaikan dengan penuturan masyarakat Indonesia
untuk mencari padanan kata yang tepat dan memperkaya kosa kata.
Cara pengucapan ataupun cara
penulisan kata serapan disesuaikan dengan kaidah-kaidah standar atau baku yang
sesuai dengan EYD.
Seluruh proses penyerapan istilah
tersebut bisa dilakukan dengan atau tanpa pengubahan, melainkan berupa
penyesuaian ejaan atau lafal. Penyerapan bahasa tersebut dilakukan
berdasarkan ketentuan berikut:
- Istilah serapan yang dipilih
lebih cocok karena konotasinya
- Istilah serapan yang dipilih
lebih singkat jika dibandingkan dengan terjemahan Indonesianya.
- Istilah serapan yang dipilih
dapat mempermudah tercapainya kesepakatan jika istilah Indonesia terlalu
banyak sinonimnya.
Proses Penyerapan Kata
Ada
beberapa proses atau cara masuknya bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia
sehingga bisa terserap. Di bawah ini adalah proses penyerapan tersebut:
1.
Adopsi
Proses
adopsi adalah terserapnya bahasa asing karena pemakai bahasa tersebut mengambil
kata bahasa asing yang memiliki makna sama secara keseluruhan tanpa mengubah
lafal atau ejaan dengan bahasa Indonesia.
Contoh:
Hotdog, Shuttle cock, reshuffle, plaza, supermarket, dan lain-lain.
2.
Adaptasi
Proses
adaptasi adalah proses diserapnya bahasa asing akibat pemakai bahasa mengambil
kata bahasa asing, tetapi ejaan atau cara penulisannya berbeda dan disesuaikan
dengan aturan bahasa Indonesia.
Contoh:
Option = Opsi
Fluctuate = Fluktuatif
Organization = Organisasi
Maximal = maksimal
3.
Pungutan
Masuknya
bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia terjadi akibat pemakai bahasa mengambil
konsep dasar yang ada dalam bahasa sumbernya, kemudian dicarikan padanan katanya
dalam bahasa Indonesia. Cara ini dapat disebut juga dengan konsep terjemahan
dimana kata serapan dihasilkan dengan cara menerjemahkan kata / istilah
tersebut tanpa mengubah makna kata tersebut.
Contoh:
Spare part = Suku cadang
Try out = Uji coba
Overlap = Tumpang tindih
Shuttle ship = Pesawat ulang-alik
Perbendaharaan kata serapan
Ada beberapa yang tidak lagi menjadi sumber
penyerapan kata baru yaitu bahasa Tamil, Parsi, Hindi, dan Portugis. Kedudukan
mereka telah tergeser oleh bahasa Inggris yang penggunaannya lebih mendunia.
Walaupun begitu, bukan bererti hanya bahasa Inggris yang menjadi rujukan
penyerapan bahasa Indonesia pada masa yang akan datang.
Penyerapan kata dari bahasa Cina sampai sekarang
masih terjadi di bidang pariboga termasuk bahasa Jepang
yang agaknya juga potensial menjadi sumber penyerapan.
Di antara penutur bahasa Indonesia beranggapan
bahwa bahasa Sanskerta yang sudah ’mati’ itu merupakan sesuatu yang bernilai
tinggi dan klasik. Alasan itulah yang menjadi pendorong penghidupan kembali
bahasa tersebut. Kata-kata Sanskerta sering diserap dari sumber yang tidak
langsung, yaitu Jawa Kuna. Sistem morfologi bahasa Jawa Kuna lebih dekat kepada
bahasa Melayu. Kata-kata serapan yang berasal dari bahasa Sanskerta-Jawa Kuna misalnya
acara, bahtera, cakrawala, darma, gapura, jaksa, kerja, lambat, menteri,
perkasa, sangsi, tatkala, dan wanita.
Bahasa Arab menjadi sumber serapan ungkapan,
terutama dalam bidang agama Islam. Kata rela (senang hati) dan korban (yang
menderita akibat suatu kejadian), misalnya, yang sudah disesuaikan lafalnya ke
dalam bahasa Melayu pada zamannya dan yang kemudian juga mengalami pergeseran
makna, masing-masing adalah kata yang seasal dengan rida (perkenan) dan kurban
(persembahan kepada Tuhan). Dua kata terakhir berkaitan dengan konsep keagamaan.
Ia umumnya dipelihara betul sehingga makna (kadang-kadang juga bentuknya)
cenderung tidak mengalami perubahan.
Sebelum Ch. A. van Ophuijsen
menerbitkan sistem ejaan untuk bahasa Melayu pada tahun 1910, cara menulis
tidak menjadi pertimbangan penyesuaian kata serapan. Umumnya kata serapan
disesuaikan pada lafalnya saja.
Meski kontak budaya dengan penutur bahasa-bahasa
itu berkesan silih berganti, proses penyerapan itu ada kalanya pada kurun waktu
yang tmpang tindih sehingga orang-orang dapat mengenali suatu kata serapan
berasal dari bahasa yang mereka kenal saja, misalnya pompa dan kapten sebagai
serapan dari bahasa Portugis, Belanda, atau Inggris. Kata alkohol yang sebenar
asalnya dari bahasa Arab, tetapi sebagian besar orang agaknya mengenal kata itu
berasal dari bahasa Belanda.
Kata serapan dari bahasa Inggris ke dalam kosa
kata Indonesia umumnya terjadi pada zaman kemerdekaan Indonesia, namun ada juga
kata-kata Inggris yang sudah dikenal, diserap, dan disesuaikan pelafalannya ke
dalam bahasa Melayu sejak zaman Belanda yang pada saat Inggris berkoloni di
Indonesia antara masa kolonialisme Belanda. Kata-kata itu seperti kalar,
sepanar, dan wesket. Juga badminton, kiper, gol, bridge.
Sesudah Indonesia merdeka, pengaruh bahasa
Belanda mula surut sehingga kata-kata serapan yang sebetulnya berasal dari
bahasa Belanda sumbernya tidak disadari betul. Bahkan sampai dengan sekarang
yang lebih dikenal adalah bahasa Inggris.
(Artikel di atas mengalami beberapa perubahan
dari sumbernya tanpa mengubah maksud dan tujuan seseungguhnya.)
Sumber:
Kamus Besar Bahasa Indonesia
menerima saran dan kritik yang membangun apabila
artikel di atas tersebut terdapat kekuarangan atau pun keslahan dalam hal
pengetikan ataupun isi artikel.