Sejarah kelahiran Buku
buku, memang sudah tak asing lagi buat kita. Bahkan bisa dikatakan sebagai
salah satu kebutuhan buat kita. Apalagi buat seorang pelajar buku adalah benda
yang wajib untuk dimiliki. Ada banyak sekali macam dari buku, seperti majalah,
novel, kitab, buku tulis dan masih banyak yang lainnya. Namun jika di telususri
lebih dalam, buku mempunyai sejarah yang sangat panjang.
Ada berbagai versi yang menguak sejarah tentang buku.
Buku pada awalnya hanya berupa tanah liat yang dibakar, mirip dengan proses
pembuatan batu bata di masa kini. Buku tersebut digunakan oleh penduduk yang
mendiami pinggir Sungai Euphrates di Asia Kecil sekitar tahun 2000 SM.
Ada pula yang menyebutkan lahir di Mesir.
Penduduk sungai Nil, memanfaatkan batang papirus yang banyak tumbuh di pesisir
Laut Tengah dan di sisi sungai Nil untuk membuat buku.Gulungan batang papirus
inilah yang melatarbelakangi adanya gagasan kertas gulungan seperti yang kita
kenal sekarang ini.
Ada pula yang mengatakan buku sudah ada sejak zaman Sang Budha di Kamboja
karena pada saat itu Sang Budha menuliskan wahyunya di atas daun dan kemudian
membacanya berulang-ulang.
Berabad-abad kemudian di Tiongkok para cendikiawan menuliskan ilmu-ilmunya di atas lidi
yang diikatkan menjadi satu. Hal tersebut mempengaruhi sistem penulisan di Tiongkok
yang huruf-hurufnya ditulis secara vertikal yaitu dari atas ke bawah. Orang
Romawi juga menggunakan model gulungan dengan kulit domba. Model dengan kulit
domba ini disebut parchment(perkamen). Bentuk buku berupa gulungan ini masih
dipakai hingga sekitar tahun 300 Masehi. Kemudian bentuk buku berubah menjadi
lenbar-lembar yang disatukan dengan sistem jahit. Model ini disebut codex, yang
merupakan cikal bakal lahirnya buku modern seperti sekarang ini.
Buku yang terbuat dari kertas baru
ada setelah Tiongkok berhasil menciptakan Pada tahun
105 Masehi, Ts’ai Lun, Ts’ai Lun berkebangsaan Cina. Hidup sekitar tahun 105
Masehi pada zaman Kekaisaran Ho Ti di daratan Cina. Ts’ai Lun berhasil
menciptakan kertas dari bahan serat yang disebut hennep. Serat ini ditumbuk,
kemudian dicampur dan diaduk dengan air hingga menjadi bubur. Setelah
dimasukkan ke dalam cetakan, bubur kertas yang telah dimasukkan kedalam cetakan
di jemur hingga mengering. Setelah mengering, bubur berubah menjadi kertas.
Kertas membawa banyak perubahan pada dunia. Kemudian Pedagang muslim membawa
teknologi penciptaan kertas dari Tiongkok ke Eropa.
Pada awal abad ke-11. Kertas yang ringan dan dapat bertahan lama dikumpulkan
menjadi satu dan terciptalah buku.
Pada tahun 751, pembuatan kertas telah menyebar hingga ke Samarkand, Asia
tenganh, dimana beberapa pembuat kertas bangsa Cina diambil sebagai tawanan
oleh bangsa Arab. Bangsa Arab, setelah kembali ke negrinya, memperkenalkan
kerajinan pembuatan kertas ini kepada bangsa Morris di Spanyol. Tahun 1150,
dari Spanyol, kerajinan ini menyebar ke Eropa.. Di sinilah industri kertas
bertambah maju. Apalagi dengan diciptakannya mesin cetak oleh Johanes Gensleich
Zur Laden Zum Gutenberg. Gutenberg telah
berhasil mengatasi kesulitan pembuatan buku yang dibuat dengan ditulis tangan.
Gutenberg menemukan cara pencetakan buku dengan huruf-huruf logam yang
terpisah. Huruf-huruf itu bisa dibentuk menjadi kata atau kalimat. Selain itu,
Gutenberg juga melengkapi ciptaannya dengan mesin cetak. Namun, tetap saja
untuk menyelesaikan satu buah buku diperlukan waktu agak lama karena mesinnya
kecil dan jumlah huruf yang digunakan terbatas. Kelebihannya, mesin Gutenberg
mampu menggandakan cetakan dengan cepat dan jumlah yang banyak.
Pabrik kertas pertama di Eropa
dibangun di Perancis, tahun 1189, lalu di Fabriano, Italia tahun 1276 dan di
Jerman tahun 1391. Berkat ditemukannya pembuatan kertas inilah maka pembuatan dan
penyebaran buku di beberapa belahan dunia semakin berkembang dan mengalami
revolusi.
Sejarah Penerbitan Buku di Indonesia
Di Indonesia sendiri, awalnya bentuk buku masih berupa gulungan daun lontar atau
nama lainnya adalah daun siwalan. Menurut Ajib Rosidi (sastrawan dan mantan
ketua IKAPI), secara garis besar, usaha penerbitan buku di Indonesia dibagi
dalam tiga jalur, yaitu usaha penerbitan buku pelajaran, usaha penerbitan buku
bacaan umum (termasuk sastra dan hiburan), dan usaha penerbitan buku agama.
Pada masa penjajahan Belanda, penulisan dan penerbitan buku sekolah dikuasai
orang Belanda. Kalaupun ada orang pribumi yang menulis buku pelajaran, umumnya
mereka hanya sebagai pembantu atau ditunjuk oleh orang Belanda.
Usaha penerbitan buku agama dimulai dengan penerbitan buku-buku agama Islam
yang dilakukan orang Arab, sedangkan penerbitan buku –buku agama Kristen
umumnya dilakukan oleh orang-orang Belanda.
Penerbitan buku bacaan umum berbahasa Melayu pada masa itu dikuasai oleh
orang-orang Cina. Orang pribumi hanya bergerak dalam usaha penerbitan buku
berbahasa daerah. Usaha penerbitan buku bacaaan yang murni dilakukan oleh
pribumi, yaitu mulai dari penulisan hingga penerbitannya, hanya dilakukan oleh
orang-orang Sumatera Barat dan Medan. Karena khawatir dengan perkembangan usaha
penerbitan tersebut, pemerintah Belanda lalu mendirikan penerbit Buku Bacaan
Rakyat. Tujuannya untuk mengimbangi usaha penerbitan yang dilakukan kaum
pribumi. Pada tahun 1908, penerbit ini diubah namanya menjadi Balai Pustaka.
Hingga jepang masuk ke Indonesia, Balai Pustaka belum pernah menerbitkan buku
pelajaran karena bidang ini dikuasai penerbit swasta belanda.
Sekitar tahun 1950-an, penerbit swasta nasional mulai bermunculan. Sebagian
besar berada di pulau Jawa dan selebihnya di Sumatera. Pada awalnya, mereka
bermotif politis dan idealis. Mereka ingin mengambil alih dominasi para
penerbit Belanda yang setelah penyerahan kedaulatan di tahun 1950 masih
diijinkan berusaha di Indonesia.
Pada tahun 1955, pemerintah Republik Indonesia mengambil alih dan
menasionalisasi semua perusahaan Belanda di Indonesia. Kemudian pemerintah
berusaha mendorong pertumbuhan dan perkembangan usaha penerbitan buku nasional
dengan jalan memberi subsidi dan bahan baku kertas bagi para penerbit buku
nasional sehingga penerbit diwajibkan menjual buku-bukunya denga harga murah.
Pemerintah kemudian mendirikan Yayasan Lektur yang bertugas mengatur bantuan pemerintah
kepada penerbit dan mengendalikan harga buku. Dengan adanya yayasan ini,
pertumbuhan dan perkembangan penerbitan nasional dapat meningkat denganc epat.
Menurut Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) yang didirikan 1950, penerbit yang
menjadi anggota IKAPI yang semula berjumlah 13 pada tahun 1965 naik menjadi
600-an lebih.
Pada tahun 1965 terjadi perubahan situasi politik di tanah air. Salah satu
akibat dari perubahan itu adalah keluarnya kebijakan baru pemerintah dalam
bidang politik, ekonomi dan moneter. Sejak akhir tahun 1965, subsidi bagi
penerbit dihapus. Akibatnya, karena hanya 25% penerbit yang bertahan, situasi
perbukuan mengalami kemunduran.
Sementara itu, pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mashuri,
kemudian menetapkan bahwa semua buku pelajaran di sediakan kan oleh pemerintah.
Keadaan tidak bisa terus-menerus dipertahankan karena buku pelajaran yang
meningkat dari tahun ke tahun. Karena itu, diberikan hak pada Balai Pustaka
untuk mencetak buku-buku yang dibutuhkan dipasaran bebas. Para penerbit swasta
diberikan kesempatan menerbitkan buku-buku pelengkap dengan persetujuan tim
penilai.
Hal lain yang menonjol dalam masalah perbukuan selama Orde Baru adalah
penerbitan buku yang harus melalui sensor dan persetujuan kejaksaan agung.
Tercatat buku-buku karya Pramudya Ananta Toer, Utuj Tatang Sontani dan beberapa
pengarang lainnya, tidak dapat dipasarkan karena mereka dinyatakan terlibat
G30S/PKI. Sementara buku-buku “Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai”, kemudian
“Era Baru, Pemimpin Baru” tidak bisa dipasarkan karena dianggap menyesatkan,
terutama mengenai cerita-cerita seputar pergantian kekuasaan pada tahun 1966.
Maaf jika terdapat kesalahan dan sangat
berterimakasih jika mau mengoreksi kesalahan tersebut.
referensi: